Rabu, 31 Agustus 2011

Gadis Swedia Berusia 19 Tahun Akhirnya Bisa Selamat Dari kerusakan Wajah Total

Thank you for using rssforward.com! This service has been made possible by all our customers. In order to provide a sustainable, best of the breed RSS to Email experience, we've chosen to keep this as a paid subscription service. If you are satisfied with your free trial, please sign-up today. Subscriptions without a plan would soon be removed. Thank you!



 

Eva Uhlin, gadis Swedia berusia 19 tahun akhirnya bisa selamat dari kerusakan wajah total setelah terkena alergi parasetamol. Perlu waktu 4 tahun untuk membuat kulit wajahnya normal dari alergi kulit mematikan tersebut.

Eva tak pernah menyangka menderita alergi obat mematikan yang dikenal sebagai Toxic Epidermal Necrolysis. Selama bertahun-tahun ketika sedang demam dirinya terbiasa mengonsumsi parasetamol.

Obat analgesik ini terkenal paling aman dan bukan salah satu obat pemicu alergi dari penyakit Toxic Epidermal Necrolysis.
Kejadiannya bermula pada tahun 2005 saat Eva berusia 15 tahun. Kala itu sedang masa liburan dan Eva mengalami demam. Seperti biasa Eva lalu mengonsumsi obat demam parasetamol.



Namun ketika bangun esok paginya, wajah Eva penuh lecet-lecet hingga menyebar ke seluruh tubuhnya. Kulitnya melepuh seperi terbakar. Dia juga mengalami sakit di bagian dada, lengan, punggung dan perut.

"Saat itu benar-benar menakutkan, saya tidak tahu apa yang salah dan saya tidak tahu apa yang terjadi. Ketika bercermin aku benar-benar tidak mengenali wajahku sendiri," kata Eva seperti dilansir dari Telegraph,

"Rasanya seperti ada yang berjalan di bawah kulitku, saya benar-benar shock. Aku tidak percaya apa yang terjadi. Aku sudah minum parasetamol berkali-kali sebelumnya," tambahnya.

Dokter menduga kemungkinan ada virus di tubuhnya ketika demam dan kombinasi dari virus dan obat ini menciptakan reaksi yang aneh. Kemudian selama bertahun-tahun Eva melakukan perawatan di Swedia's University Hospital of Linkoping.

Profesor Folke Sjoeberg, salah seorang dokter yang merawatnya mengatakan, Eva sangat beruntung bisa pulih dari kondisi yang langka ini. Toxic Epidermal Necrolysis atau dikenal juga dengan sindrom Lyell membunuh 40 persen penderitanya. Efek samping obat merupakan faktor utama penyebab sindrom ini.


Botonya ketika sakit



Penyakit Eva berangsur pulih karena kesabaran dan sikap positifnya. Pengobatan yang dilakukan sangat hati-hati karena infeksi yang muncul berbeda-beda.

Pasien penyakit ini biasanya paling banyak mengalami masalah saluran pernapasan atas, mulut melepuh yang membuatnya tak bisa makan dan hanya bisa melalui selang makan, mata bengkak dan bahkan ada yang hingga menyebabkan kebutaan.

Meski kini kulitnya telah pulih dan Eva bisa beraktivitas normal dia tetap harus memeriksakan air matanya dua kali sehari dan menjadi sensitif terhadap cahaya matahari.

Penyakit ini adalah salah satu penyakit alergi kulit yang mematikan selain Sindroma Steven Johnson. Rasio penderita Toxic Epidermal Necrolysis adalah satu diantara sejuta orang. Penyakit ini bisa menimpa siapa pun dari semua kelompok umur. [menjelma.com]

Jangan lupa di like...
   
Follow Juga Ya....

0 komentar:

Posting Komentar

give your comment here, please do not spam

 
My Big Dream powered by XXZ